2019-04-28


TANJUNG SIMAN


    Sinar matahari pagi membangunkan penghuni alam. Seperti biasa, penduduk desa tak kan betah berlama-lam di rumah. Setelah secangkir kopi dan beberapa potong singkong menghangatkan perut, mereka pun bergegas ke kebun atau ke ladang.


    Pada pagi yang sama, tampak sosok laki-laki tegap memandang aneh di sekitar kebun miliknya. Entah mengapa pagi yang cerah itu tampak lengang. Matanya tertuju pada bekas jejak yang aada di tanah. Tampak rumput dan pohon-pohon kecil riboh dan patah terkena jalur bekas jejak itu. Dia memperhatikan dan mengikuti jejak yang meliuk-liuk itu dengan senjata di tangan. “ini seperti jejak seekor ular,” desisnya. Jika benar ini adalah jejak seekor ular, tak sanggup dia membayangkan betapa besar si pemilik jejak itu. Dia melangkah dengan hati-hati dan waspada, untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang tak terduga. Dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang di cari. Perlahan-lahan dia mengikuti jejak tersebut yang mengarah ke hutan rimba.


    Rasa dan penasaran dan ingin tahu membuat rasa takutnya hilang. Ia ingin membuktikan dan melihat sebesar apa hewan melata tersebut. Dia tidak mau hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut, yang biasanya sering di bumbui dan titambahi supaya lebih menarik dan menakutkan. Hari dia akan melihat dan membuktikan dengan mata kepalanya sendiri, kebenaran yang selama ini menjadi rahasia kehidupan di alam bebas ini.


    Belum jauh dia memasuki hutan rimba mengikuti jejak yang ada, langkah kakinya terhenti dan membuat dia lebih berhati-hati penuh kewaspadaan. Jejak yang di ikutinya berhenti dan menghilang, tepat dibawah sebatang pohon yang rimbun. Diapun perlahan mengitari pohon itu dengan jarak yang cukup jauh beberapa kali. Sesekali kepalanya mendongak ke atas untuk mengawasi apa yang dicarinya. Kemudian, mata laki-laki itu tertuju pada sebuah benda yang mengering dan tersangkut di antara dahan-dahan pohon. Meskipun telah kering, warnanya tetap terlihat cerah dan seolah membawa pancaran sinar. Dengan perlahan, dia pun memberanikan diri untuk mengamati benda itu dan mengambilnya. Ternyata benda itu adalah Belulus Ulakh (pergantian kulit yang terjadi pada ular, dimana kulit lama mengulupas dan ditanggalkan setelah berganti kulit yang baru). Melihat besar dan panjangnya Belulus Ulakh ini, tentu sudah dapat di duga betapa besar dan panjangnya ular ini. Sungguh sangat disayangkan, mungkin proses pergantian kulit itu sudah lama terjadi, sebab sebagian sudah hancur dan hilang.


    Laki-laki itu kemudian membersihkan Belulusan Ulakh (bekas kulit ular). Setelah bersih, lalu ia menggulungnya. Sejenak rasa tidak enak muncul di hatinya. Ia merasa andai kata sudah sampai di dusun, pasti dia menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang, karena dia membawa barang yang tidak berguna dan berharga itu. Maka agar tidak diketahui orang lain, ia merinisiatif melilitkan belulus ulakh itu di pinggang dan di tutupi pakaiannya. Tak lama berselang, ia ppun pergi melangkah meninggalkan hutan rimba dan kembali ke ladangnya. Setelah semua urusannya di ladang selesai, ia pun kembali ke rumahnya.


    Sepanjang jalan, pikirannya tak pernah lepas dari bayang-bayang jejak ular dan benda yang ia lilitkan di pingangnya. Sesekali ia memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Mereka semua tampak aneh dan biasanya. Ia mencoba memahaminya tapi rasa aneh itu masih saja ada. Rasa aneh itu semakin terasa manakala ia menyapa beberapa tetanganya tapi tak jua mendapat jawaban.


    Merasa tak dianggap dan di acuhkan oleh semua orang, timbul kejahilan pada dirinya untuk menggoda. Telinga kiri dan kanan seorang temannya yang berjalan, ditariknya dari samping. Temannya kaget dan celigukan menoleh kekiri juga ke kanan, mencari siap ayng iseng menarik telinganya. Padahal saat itu, dia ada tepat berada di samping temannya. Tapi ternyata, temannya dan juga yang lain tidak dapat melihat keberadaan dirinya. “Atau....dia yang balas menggodaku?” kembali ia bertanya dalam hati.


    Rasa penasaran ingin mengetahui apa benar keberadaannya tidak terlihat, maka kejahilannya untuk menggoda teman sedusun di ulangginya lagi. Salah seorang pantat seorang temannya di pukul dengan keras, sehingga temannya itu terkejut dan menjerit sambil melompat dengan wajah ketakutan. Kejadian ini membaut semua temannya yang jalan bersam merasa heran dan tak mengerti, muncul dugaan yang membuat mereka dihinggapi rasa takut.


    “Eh tadi, sewaktu aku berjalan di belakang kalian, kedua telinga ku di tarik dengan keras dari belakang. Ku cari siapa yang berani iseng kepada ku, tapi tidak ada satu seorang pun yang ada di belakangku...!”, celoteh salah seorang temannya yang pertama di jahilinya, becerita kepada temannya yang lain. “yang bener?” tanya sahabat yang lain. “iya.” Jawabnya tegas. “memang aneh ya...barusan aku juga merasakan keanehan”. “telingamu juga?”. “Bukan telinga, tapi pantatku ada yang memukul dengan keras, sehingga aku melompat dan menjerit. Eh...kalian mengeri akau bercanda!” kata temannya yang masih merasakan sakit dan ketakutan. “mungkin diantara kita ada yang mempunyai nazar dan belum di bayar atau sudah ada yang melanggar pantangan dan larangan yang diberikan para sesepuh kita disini,” kata seorang yang terlihat seperti ketakutan, setelah mendengar cerita dari teman-temannya. “Ah.....jangan dibawa ke arah tahayul, nanti kita salah jalan...!” salah seorang dari mereka mencoba menenangkan teman-temannya.


    Melihat kenyataan ini barulah dia menyadari, bahwa saat ini tubuhnya tidak dapat di lehat oleh teman-temannya. Laki-laki belulusan ulakh itu pun berjanji jika tubuhnya sudah dapt kembali di lihat orang, ia akan meminta maaf atas semua kejahilannya mengenggu orang. Kejadian ini membuatnya merasa heran dan bingung, apa yang menjadi penyebab samua ini.

    Malam itu, laki-laki yang memakai belulusan ulakh di tubuhnya duduk sendirian di depan rumah. Pikirannya masih saja memikirkan peristiwa yang hari ini telah di alaminya. Sebenarnya pa yang telah terjadi pada dirinya, sehingga dia tidak terlihat oleh orang lain. Dia mencoba merenungi dan mengingat kilas balik semua yang terjadi hari ini, terbayang kembali semua yang dijalaninya dan lakukannya.


    Cukup lama dia mengintripeksi dirinya sendiri, tetapi sampai detik ini belum juga dapat ditemukan jawaban. Terlintas dibenaknya yang membuatnya merinding sendiri, apakah diri ku ini sudah meninggal? Jasadku tak terlihat manusia, sedangkan diriku dapat dengan jelas melihat apa saja dengan mataku. Mungkinkah ini yang dinamakan kematian?


    Dia bangkit dari tempat duduknya dan masuk kedalam biliknya. Baju hitam yang dikenakannya pun dibuka dan perlahan belulus ulakh ditubuhnya di lepas. Dia meletakkan Belulus Ulakh itu di atas pembaringan. Tanpa mengenakan baju di keluar dari dalam biliknya dan kembali duduk di depan rumahnya.


    Baru sebentar dia duduk di depan rumah, kebetulan lewat dua orang yang tidak lain adalah tetanggannya. Dia sengaja tidak menegur duluan terhadap orang yang lewat itu, ini untuk membuktikan apakah mereka dapat melihat dirinya. Ternyata dua orang itu menegur dirinya, teguran tersebut di balasnya dengan ramah.


    Setelah kedua orang itu berlalu, dia merasa senang dan gembira. Mereka menegur dan itu berarti mereka dapat melihat dirinya. Ini juga sama artinya bahwa dirinya belum meniggal. Perasaan lega bercampur senang pun muncul di hatinya. Dia kembali masuk ke dalam biliknya, sambil tersenyum puas dia merebahkan dirinya di atas pembaringan. Malam ini dia dapat tertidur dengan nyeyak, satu pertanyaan di hatinya telah terjawab bahwa dia belum meninggal.


    Ke esokan harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke ladang, sebelum keluar rumah dia memakai baju hitam dan celana hitam. Sebelum keluar rumah dia tidak lupa melilitkan Belulus Ulakh di tubuhnya. “Hari ini begitu cerah dan menyenangkan,” katanya dalam hati.


    Selama perjalanannya menuju ladang, sudah beberapa kali dia bertemu dengan orang-orang sedusun. Tak satu pun dari mereka menyapanya seperti biasa, bahkan orang yang jalan ke ladang searah dengan ladanganya juga tidak menyapa dirinya. Mungkin hari ini orang-orang yang kebetulan bertemu dirinya itu sedang ada permasalahan, sehingga tidak memperhatikan keadaan di sekelilingnya.


    Ladang yang di garapnya bersih dan teratur dengan baik, semua yang di tanam dapat tumbuh dengan subur. Keadaan ini lah yang membuat dia sangat bersemangat bekerja, sering dia lupa dengan waktu apabila sedang tenggelam dalam pekerjaan ini. Sama seperti hari ini, dia lupa beristirahat dan makan, sedangkan matahari talah tepat berada di atas kepalanya.


    Setelah membersihkan diri, dia menuju dangau (pondok kecil) untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Selesai menyantap makanan yang dibawanya di rumah, diapun beristirahat sekedar melepas lelah. Merasa istirahatnya sudah cukup dan tubuh kembali segar dan bertenaga, tanpa membuang waktu segera dia meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.


    Waktu rasanya berjalan terlalu cepat baginya, karena hari telah menjelang sore. Dia menghentikan semua kegiatannya di ladang ini, peralatan yang telah dipergunakan disusun kembali dengan rapi dan disimpan. Besok kembali ke ladang ini untuk meneruskan pekerjaannya, kemudian dia berkemas untuk pulang kerumah.


    Jarak tempuh dari ladangnya ke rumah cukup jauh, dia harus dapat memperhitungkan waktu yang akan dijalaninya dengan tepat. Kalau tidak, tentu saja dia akan kemalaman di tengah jalan. Mengingat semua itu, dia pun bergegas meninggalkan ladangnya untuk kembali kerumah.


    Selama dalam perjalanan ke rumah, sama seperti pada saat dia akan pergi keladang. Orang-orang yang kebetulan bertemu dengannya, tak satupun dari mereka menegur dan menyapa dirinya. Dia menepis jauh-jauh semua pikiran yang nantinya dapat meresahkan dirinya, mungkin mereka terlalu lelah bekerja seharian di kebun atau pun diladang. Cara inilah dia membesarkan hati dan melapangkan dadanya, tak terasa dia pun sudah hampir sampai di rumahnya.


    Dalam kesendiriannya, ia menjerik sekuat-kuatnya. Mengapa ini menimpa dirinya. Semua orang mengasingkan dirinya. Semua orang tak dapat melihat keberadaan dirinya. Mungkin semua ini sudah tertulis di jalan kehidupannya, namun dia tidak mau menyerah dan pantang berputus asa. Biarlah hari-hari akan dilaluinya dengan penuh kesunyian, tapi akan dicarinya sebuah jawaban. Penat yang dirasakanya di bawanya kebaringan. Ia berharap dapat melupakan kepahitan yang di alaminya.


    Waktu demi waktu pun berlalu, keberadaan laki-laki yang memakai Belulus Ulakh sudah hampir di lupakan penduduk dusun, karena sampai saat ini dia tak pernah muncul dan terlihat lagi. Mereka semua beranggapan bahwa dia telah pergi entah kemana, padahal dia selalu ada di dusun ini dan tidak pernah pergi.


    Yang menarik perhatian penduduk dusun ini, adalah tempat tinggalnya yang selalu terlihat bersih dan terawat dengan baik. Sama juga dengan ladangnya yang tampak bersih dan terawat tidak ditumbuhi rumput dan ilalang. Keanehan yang nampak di depan mata ini tidak dapt di pungkiri, sehingga sering menjadi bahan pembicaraan orang di dusun ini.


    Sebagian orang berangapan dia masih hidup dan pergi dari dusun, tapi sampai sekarang tak seorangpun yang tahu keberadaannya. Ada juga sebagian orang di dusun ini beranggapan dia telah meninggal dan jasadnya tidak dapat di temukan. Itulah pendapat dan anggapan penduduk dusun ini, sedangkan orang yang menjadi objek pembicaraan tidak pernah pergi kemana-mana.


    Pernah ada keinginan yang hampir tak dapat terbendung lagi, dia ingin dapat berkumpul dengan teman sepermainannya. Untunglah dia dapat menahan apa yang menjadi kehendaknya, bila dia menurutkan nafsu untuk berkumpul bersama mereka.


    Tentu akan terjadi kehebohan seperti beberapa tahun yang lalu, dan dia tidak ingin semua itu terulang lagi. Sampai saat ini laki-laki yang memakai Belulusan Ulakh itu, belum menemukan jawaban yang dicarinya.


    Suatu hari, laki-laki yang memakai Belulusan Ulakh melangkahkan kaki untuk mandi di sungai ogan, ini merupakan kebiasaan orang-orang pada umumnya di dusunnya. Di sungai itu, sudah ada orang yang sedang mandi dan mencuci, anak-anak dengan riang bermain dan bercanda di jernihnya air sungai. Laki-laki yang memakai Belulusan Ulakh sangat senang melihat itngkah laku anak-anak itu, betapa indahnya dunia yang mereka miliki.


    Di sebuah batu yang ada di tepi sungai, dia duduk dan bersiap untuk mandi. Pakaian hitam-hitam itu satu persatu di bukanya. Begitu di melepas Belulus Ulakh yang dililitinya di tubuhnya, terjadi keanehan yang sama sekali tak pernah menduganya. Orang-orang yang berada di sungai itu terlihat terkejut dan heran secara spontan mereka menegur dan menyapanya.


    Tak percaya tapi ini suatu kenyataan yang diterimanya saat itu, dia sangat senang dan begitu bahagia. Sudah di tegur dan disapa oleh orang lain. Ini berarti dirinya sudah dapat terlihat kembali. Untunglah hari itu masih ada orang yang ingat dan mengenalnya, sehingga suasana di sungai menjadi bertambah ramai dan heboh. Kejadian ini dengan cepat disampaikan warga kepada puyang dan para sesepuh dusun ini, sehingga mereka beramai-ramai pergi menuju ke tepian sungai.


    Setelah situasi yang menghebohkan itu dapat di kendalikan, maka laki-laki yang selama ini di anggap telah hilang dibawa ke tempat salah seorang sesepuh dusun. Laki-laki yang berpakaian serba hitam itu tidak memakai dan melilitkan Belulusan Ulakh di pinggangnya. Benda itu di bungkus dan di pegangnya dengan erat sekali. Dia sangat bahagia dan terharu, ternyata penduduk di dusun ini masih dapat mengenali dirinya. Dia merasa bersalah terhadap semua orang yang ada di dusun ini, karena selama ini dia di anggap hilang dan pergi dari dusun. Padahal itu tidak pernah dia lakukan, hanya satu rahasia yang tak akan di ungkapkan.


    Di hadapan para puyang di menceritakan semua yang di alaminya dari awal sampai kejadian hari ini, diceritakan dengan sangat rinci dan tidak di tambah satupun di kuranginya. Penglamannya di ceritakan hanya pada orang yang sangat di percayainya dan menjadi panutannya. Mendengar kisah pengalaman yang di ceritakanya, membuat mereka senang dan bahagia juga merasa terharu. Pantas diacungi jempol atas ketabahan yang dimiliki laki-laki tersebut, dapat bertahan hidup dalam kesendiria untuk mencari jawaban yang di inginkan.


    Malam itu, laki-laki yang memiliki Belulusan Ulakh, dapat berbaring di atas tempat tidurnya dengan tenang. Beban yang selama ini terasa begitu berat menghimpit kehidupannya telah sirna, semenjak dia menemukan jawaban yang selama ini membelegu kehidupannya.


    Rupanya Beluluk Ulakh yang selalu ada di pinggannya dan dibawahnya selama ini, meyebabkan dirinya tidak dapat dilihat oleh orang lain. Dia ingin dapat menjalani kehidupan ini secara wajar seperti semula, bergaul dan bercanda dengan semua orang tanpa ketercuali.


    Tepat tengah malam, laki-laki itu bangkit dari pembaringannya. Dia keluar ruamh dengan membawa Belulus Ulakh. Di bawah cahaya rembulan, dia berjalan menuju keempat sudut penjuru dusun tanung siman, kemudian tiap sudut dia menguburkan Belulusan Ulakh dan yang terakhir kali tepat di tengah-tengah dusun tanjung siman.


    Konon menurut cerita, setelah Belulus Ulakh itu terkubur di empat sudut penjuru dan di tengah dusun tanjung siman. Secara gaib, dusun tanjung siman tak dapat di pandang kasat mata alias hilang. Oleh sebab itu, dusun tanjung siman dinamakan negeri silap (Dusun Hilang). Menurut keterangan para sesepuh, dusun tanjung siman yang terletak di sebelah utara dusun gunung kuripan masih ada sampai sekarang. Meskipun demikian, keberadaan dusun tersebut tak berpenghuni.