Wilayah Goa Harimau




Perjalanan yang harus ditempuh untuk ke lokasi situs ini harus dengan berjalan kaki dari kantor Kepala Desa Padang Bindu. Jarak yang harus ditempuh ±1,2 kilometer ke arah barat dari desa. Di bawah situs ini mengaliur Sungai Ayakaman Basah yang merupakan anak sungai dari Sungai Ogan. Di wilayah Goa Harimau ini terdapat beberapa goa yang berhasil dipetakan oleh tim dari Pusat Arkeologi Nasional Jakarta. Goa-goa tersebut antara lain Goa Karang Sialang Kecil dan Goa Karang Sialang.


1. Goa Harimau


Goa Harimau berukuran cukup besar dengan menghadap ke arah tenggara. Pintu masuk goa ini sangat besar sehingga menyebabkan bagian dalam terlihat terang dan memiliki sirkulasi udara yang sangat baik. Goa ini mempunyai panjang sekitar 32, lebar 43 meter, dan tinggi atap berkisar 12 hingga 17 meter. Bagian dalamnya memiliki lantai yang relatif datar dan luas. Batu-batu gamping yang berasal dari reruntuhan dinding dan atap goa umumnya terkonsentrasi di sisi utara bagian tengah hingga ke timur. Keadaan lantai goa merupakan tanah kering dan dari hasil survei permukaan, banyak ditemukan artefak batu berupa alat-alat serpih.


Goa Harimau ini diperkirakan berfungsi sebagai situs penguburan juga merupakan situs hunian. Situs hunian ditandai dengan adanya temuan artefak litik yang merupakan peralatan manusia penghuni goa, serta artefak lainnya berupa fragmen sisa-sisa tulang hewan dan cangkang moluska yang diperkirakan merupakan bekas dari makanan manusia penghuni goa tersebut. Selain itu juga banyak ditemukan fragmen gerabah yang juga berfungsi sebagai peralatan hidup sehari-hari.


Penguburan yang terdapat di Situs Goa Harimau mengenal dua macam sistem penguburan, yaitu penguburan primer dan sekunder. Penguburan primer ini berupa penguburan langsung mayat ke dalam tanah. Penguburan primer di situs ini terdapat dua macam, yaitu penguburan dengan orientasi barat-timur dengan keadaan kerangka lurus dan penguburan primer dengan posisi terlipat. Penguburan sekunder ditandai dengan adanya temuan rangka yang tidak lengkap, yaitu dengan menyusun sisa-sisa tulang dalam satu tempat. Tulang-tulang yang disusun biasanya terdiri dari tengkorak serta tulang dari anggota tubuh seperti tangan dan kaki.


Menurut hasil analisis dari tim penelitian Goa Harimau, ciri-ciri morfologis yang terdapat pada temuan rangka menunjukkan identitas kuat mereka sebagai bagian dari Ras Mongoloid. Salah satu yang menonjol dari temuan rangka ini adalah adanya keropos gigi (karies) yang cukup signifikan. Penyakit ini sangat menonjol ditemukan pada Ras Mongoloid dalam konteks prasejarah maupun populasi hidup masa kini. Keropos gigi ini kemungkinan besar disebabkan oleh pola makan dari penghuni goa tersebut. Ras Mongoloid yang mulai muncul 4.000 tahun yang lalu di Indonesia bertumpu pada pola hidup pertanian sehingga banyak mengkonsumsi karbohidrat sebagai bahan makanan (padi, tales, dan umbi-umbian). Kemungkinan besar pola makan tersebut bertumpu pada ekonomi pertanian.


Pada dinding bagian dalam terdapat lukisan. Lukisan ini kemungkinan besar dibuat dengan menggunakan bahan oker yang merupakan bahan yang umum digunakan untuk membuat lukisan pada masa prasejarah. Dari bahan ini maka dihasilkan lukisan yang berwarna merah. Lukisan dinding seperti ini juga dijumpai di daerah lain seperti Sulawesi dan Kalimantan. Bahan oker sendiri banyak ditemukan di lantai goa selama pelaksanaan ekskavasi/penggalian. Lukisan yang terdapat di dinding goa ini memiliki bentuk bidang-bidang segi empat yang dihiasi dengan pola-pola geometris berupa perpaduan antara garis-garis lurus dan garis silang yang membentuk hiasan tumpal.


2. Goa Karang Sialang Kecil


Goa ini terletak di bukit Karang Sialang, tepatnya di atas Goa Harimau dalam wilayah Desa Padang Bindu. Pintu masuknya kecil hanya ada satu ruangan yang tidak terlalu luas, terdapat bongkahan batuan berukuran kecil hasil runtuhan. Batuan penyusunnya adalah batugamping terumbu.


3. Goa Karang Sialang


Posisi Goa Karang Sialang adalah di atas bukit Karang Sialang, tidak jauh dari Goa Karang Sialang Kecil. Goa ini memiliki dimensi lorong yang lebar. Hampir seluruh bagian lorong memiliki atap tinggi. Terdapat stalaktit dan stalagmit yang proses pertumbuhannya masih berlangsung, juga pilar dan flowstone di beberapa tempat. Setidaknya terdapat tiga pintu masuk horizontal dengan tiga lubang vertikal di atap yang terhubung dengan permukaan tanah. Keberadaan lubang-lubang pada atap goa memunculkan bentuk bahaya berupa runtuhan bongkah-bongkah batu dari permukaan ke dalam lorong goa. Dua deret pagar bambu telah dipasang oleh penduduk setempat guna membatasi daerah yang rawan oleh batuan runtuh.


Sebuah lorong kecil di dekat mulut goa sebelah timur sengaja ditutup oleh masyarakat dengan bongkahan-bongkahan batu dan drum minyak untuk memudahkan pengamanan, karena di balik lorong tersebut terdapat ruangan yang dihuni oleh burung walet. Penutupan lorong ini dan keberadaan burung wallet menyulitkan tim eksplorasi untuk melakukan pengamatan seksama di dalamnya.


Batuan penyusun Goa Karang Sialang adalah batugamping terumbu. Hewan yang dijumpai yaitu kelelawar. Pengamatan yang dilakukan menemukan sebaran serpih-serpih obsidian pada permukaan tanah. Keberadaan obsidian ini merupakan indikator penting pemanfaatan goa di masa lampau. Belum lagi keberadaan ruangan yang cukup luas dengan permukaan yang datar, merupakan variabel-variabel penunjang bagi suatu hunian prasejarah yang ideal. Atas dasar itulah, Goa ini termasuk salah satu prioritas untuk diteliti lebih intensif di masa mendatang.