1. KESENIAN HADRA ( KESENIAN REBANA TERBANGAN )




Hadrah berasal dari bahasa Arab, yakni hadlaro-yahdluru-hadlran(hadlratan), yang memiliki arti hadir atau kehadiran. Pendapat lain mengatakan bahwa istilah ini diambil dari nama sebuah wilayah yang bernama Hadramaut. Ada juga yang mengatakan kalau Hadrah berasal dari negeri Parsi.


Kesenian Hadrah dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian dalam Islam yang diiringi dengan rebana (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair pujian (bahkan ada yang mengatakannya sebagai dzikir) terhadap Nabi Muhammad SAW. Ada pula yang berpendapat bahwa kesenian ini adalah sejenis puisi rakyat yang mempunyai unsur-unsur keagamaan, contohnya ketika orang-orang Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Hadrah dikenal juga sebagai media khotbah, wirid, dan pembacaan Qur’an.


Kesenian ini memang dipakai oleh kaum Anshar untuk menyambut kedatangan Nabi setelah hijrah dari Makkah. Syair yang dilantunkan adalah shalawat “Thala’al Badru” sebagai ungkapan kebahagiaan mereka atas kehadiran Nabi. Namun di kala itu, alat musik yang dipakai masih sederhana. Dalam perkembangannya, kesenian ini memiliki alat musik dominan, yakni tamborin. Juga ada gendang yang dipukul oleh lima orang atau lebih, satu orang penyanyi, dan delapan orang penari atau lebih.


Biasanya, kesenian ini dimainkan oleh para sufi. Ini adalah imbas dari orang yang pertama kali memperkenalkannya, yakni seorang tokoh tasawuf yang bernama Jalaludin Rumi Muhammad Bin Muhammad Al-Balkhi Al-Qunuwi. Ia juga seorang penyair yang karya-karyanya banyak diperbincangkan oleh para sarjana dan pakar, baik Timur maupun Barat. Karya-karyanya adalah Diwan al-Syams Tabrizi, Matsnawi, Ruba’iyyat, Fihi ma Fihi, dan Majalis al-Sab’ah.


Di Indonesia, kesenian hadrah ini menjadi bagian dari masyarakat terutama di kalangan pesantren. Seni ini diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia sekitar abad ke-13 H oleh seorang ulama besar dari negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi (1259-1333H/1839-1931 M). Awal mula ia datang ke Indonesia adalah untuk dakwah Islam. Dalam dakwahnya ini, ia iringkan pula suatu kesenian Arab berupa pembacaan shalawat yang diiringi rebana. Kesenian ini kemudian dikenal dengan Seni Hadrah. Ia mengembangkannya melalui pendirian sebuah majelis shalawat sebagai sarana mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW.


Para Wali Songo kemudian mengembangkan seni ini dalam dakwahnya. Tiap diadakan perayaan Maulid Nabi, kesenian ini turut pula diperdengarkan di serambi Masjid Demak. Lama-kelamaan, kesenian ini dipakai pula untuk mengiringi acara-acara lainnya, seperti pernikahan, khitanan, haul, majelis taklim, bahkan menjadi sebuah kegiatan ekstrakurikuler baik di sekolah ataupun di pesantren.


2. KESENIAN TRADISIONAL RUDAT




Seni Rudat adalah salah satu jenis kesenian yang di dalamnya terdapat tari-tarian dengan iringan terbangan. Jenis tarian dalam seni Rudat mengandung gerakan-gerakan bela diri dan seni suara. Kata rudat berasal dari bahasa Arab, yaitu rudatun yang xrarti "taman bunga". Menurut seorang pakar Sunda, yaitu Yus Rusyana, arti dari kata rudat tersebut bila aitkan dengan Seni Rudat berarti "bunganya pencak". Dalam hal ini, gerakan-gerakan silat yang ditampilkan lewat tarian Rudat dikonotasikan pada sifat umum bunga, indah.





Seni Rudat tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren. Oleh karena itu, kesenian ini sangat terpengaruh oleh budaya pesantren, di antaranya kebiasaan Alunkan puji-pujian yang ditujukan kepada Allah swt. dan Nabi Muhammad saw.


lewat shalawatan oleh para santri. Dalam seni Rudat kebiasaan para santri tersebut dipadukan dengan kesenian yang didukung oleh masyarakat sekitar yakni kesenian Sunda. Dengan demikian, Seni Rudat merupakan jenis kesenian yang mengandung berbagai unsur, yaitu dakwah agama Islam dan hiburan berupa kesenian tradisional setempat, dalam hal ini pencak silat.


Sejarah dan Fungsi Seni Rudat

Seni Rudat tumbuh seiring dengan upaya penyebaran agama Islam oleh para wali (Wali Sanga). Di antara para wali tersebut adalah Syarif Hidayatullah yang dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Beliau menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dan Banten. Dalam melakukan misinya, Sunan Gunung Jati dibantu oleh murid-muridnya. Pada tahun 1450 — 1500 penduduk Jawa Barat masih beragama Hindu. Ketika itu beliau mengutus limaorang muridnya untuk mengembangkan syiar agama Islam melalui pertunjukan kesenian. Adapun jenis kesenian yang dipertunjukkan menggunakan alat musik genjring yang juga disebut terebang. Alat musik tersebut dikembangkan dari satu jenis menjadi limajenis yang mengandung makna lima rukun Islam. Ditampilkannya kesenian Terebang tersebut dimaksudkan untuk menghubungkan batin manusia dengan Sang Pencipta.


Seni Rudat telah ada sejak abad XVI, yaitu masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kemudian berkembang di pesantren-pesantren. Ketika itu, seni Rudat ,erfungsi sebagai sarana hiburan atau media pergaulan para santri di waktu senggang. Pada kesempatan tersebut para santri bernyanyi yang isinya memuji kebesaran Allah swt. Sambil menari dengan gerakan pencak silat.


Seni Rudat atau sering pula disebut terbangan, mengalami pergeseran fungsi. Semula, Seni Rudat berfungsi sebagai syiar agama Islam dari para ulama dan santri kepada masyarakat, kemudian berkembang menjadi sarana hiburan. Seni Rudat yang laxrfungsi sebagai syiar agama Islam ditampilkan pada acara-acara yang berkaitan dengan keagamaan (Islam), seperti :


Mauludan, yaitu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw.; Rajaban, yaitu memperingati peristiwa Isra Miraj; Hari Raya Idul Fitri; Hari Raya Idul Adha. Adapun Seni Rudat yang berfungsi sebagai sarana hiburan ditampilkan pada 7erbagai acara, baik acara keagamaan maupun upacara daur hidup, seperti perkawinan Jan khitanan. Oleh karena itu, seni Rudat pada saat ini dapat dikatakan berfungsi sebagai :


a) sarana hiburan di lingkungan pesantren;sarana hiburan dalam upacara perkawinan dan khitanan; menjemput para Sultan atau tamu;sarana dakwah dalam penyebaran agama Islam;perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI.


Pemain dan Waditra

Dewasa ini, Seni Rudat mengalami perkembangan, baik jumlah pemainnya maupun waditranya. Jumlah pemain yang terlibat dalam Seni Rudat berkisar antara 12 sampai 24 orang. Para pemain tersebut di antaranya sebagai penabuh waditra, penari dan penyanyi. Waditra yang digunakan dalam Seni Rudat terdiri atas ketimpring, tojo, nganak, gendrung dan jidor. Masing-masing waditra dimainkan oleh seorang penabuh. Adapun bahan pembuatan waditra dari kayu dan kulit kerbau. Bentuk, ukuran dan cara memainkan waditra tersebut seperti berikut:


Ketimpring, berbentuk bulat dengan diameter muka 36 cm dan diameter belakang 26 cm, tinggi 18 cm dan ketebalan kayu 1 cm. Ketimpring memiliki kencringan berjumlah 2 sampai 3 buah. Cara memainkan alat ini dengan dipukul.


Tojo, bentuknya sama dengan ketimpring yakni bulat. Bagian muka berdiameter 37 cm, diameter belakang 26 cm, tingginya 18 cm dan ketebalan kayu 1 cm. Tojo memiliki pula kencringan yang berjumlah 2 sampai 3 buah. Dalam pertunjukan, alat ini dimainkan dengan cara dipukul dan berfungsi sebagai pokok lagu atau melodi. Perbedaan alat ini dengan ketimpring terletak pada diameter muka yang lebih besar.


Nganak, berbentuk bulat dengan diameter muka 36 cm, diameter belakang 26 cm, tinggi 18 cm dan ketebalan kayu 1 cm. Alat ini dimainkan dengan cara dipukul dan fungsinya untuk mengiringi bunyi waditra lain.


Jidor, berbentuk bulat seperti bedug dengan diameter 44 cm dan tingginya 47 cm. Cara memainkannya dengan dipukul dengan pemukul khusus terbuat dari kayu.


Pola Permainan Seni Rudat

Seni Rudat seperti halnya Seni Patingtung, tariannya berpola pada gerakan pencak silat. Akan tetapi, gerakan pencak silat pada Seni Rudat tidak menggunakan tenaga. Tarian dalam Seni Rudat diiringi lagu-lagu yang sebagian besar bertema keagamaan atau memuji kebesaran Sang Pencipta. Adapun gerakannya bertumpu pada gerakan kaki, seperti melangkah dengan serempak ke depan, ke belakang dan ke samping. Gerakan melangkah dengan serempak melambangkan perlunya kesamaan dan keserasian dalam melangkah.


Beberapa gerakan yang digunakan dalam Seni Rudat meliputi gerakan tangan, kaki dan kepala yang, masing-masing gerakannya seperti berikut :


* Kaki : gerakan kaki terdiri atas kuda-kuda, adeg-adeg masekon rengkuh, deku, depok dan lain-lain.
* Tongan : gerakan tangan terdiri atas mengepal, tonjok, gibas, meupeuh, keprok, kepret. Kepala : gerakan kepala mengikuti arah tangan yang bergerak, yaitu ke depan, kesamping kid dan kanan serta ke belakang.

Nama pada gerakan-gerakan tersebut diambil dari nama gerakan pada pencak silat, yaitu:


Gerak nonjok, yaitu kaki kanan melangkah ke depan dengan posisi kuda-kuda, tangan kiri mengepal ditonjokkan lurus ke depan sementara tangan kanan di pinggang dengan jari tangan mengepal, kepala lurus ke depan.


Gerak pasang, yaitu kaki pasang ditempatkan dengan posisi kuda-kuda dan melangkah ke depan dengan posisi kuda-kuda pula. Tangan kanan menyikut ke depan dengan posisi tangan siku-siku. Jari tangan kiri ke depan dada dengan posisi tangan ditekuk. Pergelangan tangan dan jari tangan menghadap ke depan. Gerakan demikian sebagai persiapan berkelahi dengan lawan.


Gerak gibas, yaitu kaki kanan tegak lurus dengan berat badan pada kaki kanan. Kaki kanan agak rengkuh (rendah), kaki kiri diangkat membuat siku-siku. Tangan kanan ke bawah di atas kaki kiri. Tangan kiri menekuk dengan arah gerak ke kanan. Kepala diarahkan ke samping kanan dan langsung membalik ke kiri.


Busana

Busana penari dalam pertunjukan Seni Rudat dibuat seragam yang melambangkan kerukunan. Adapun penari dalam pertunjukan Seni Rudat terdiri atas para wanita dan pria. Baik penari wanita maupun penari pria masing-masing memakai busana yang sama menurut kelompoknya. Busana yang dikenakan oleh penari pria terdiri atas celana pangsi hitam, baju berwarna putih, kopiah dan kain samping pendek dari bahan batik. Adapun busana yang dikenakan oleh penari wanita terdiri atas celana pangsi hitam, baju putih, selendang, kain samping pendek dari batik dan tutup kepala.


3. TERBANGAN




Banyak seni budaya yang saat ini mulai luntur dan makin menghilang ditelan kemajuan jaman yang serba modern. Salah satu seni budaya yang jarang dijumpai saat ini adalah Terbangan. Terbangan biasa hadir di pesta atau hajatan warga seperti pada acara Pernikahan dipakai sebagai tetabuhan pengiring pengantin menuju singga sana nya.


kesenian Terbangan adalah seni budaya warisan para leluhur yang sejatinya mengkolaborasikan irama musik tradisional arab dengan sholawat nabi dan lagu-lagu khas bernuansa islami. Terbangan biasanya juga ditampilkan pada acara hajatan masyarakat. “Menyuguhkan seni Terbangan biasanya sebagai bentuk rasa syukur tuan rumah yang punya hajat.